Kegiatan di Bidang Kebangsaan

 

Sebagai respon atas adanya ancaman terhadap disintegrasi bangsa, terutama oleh berkembangnya fanatisme agama dan kesukuan, Bapak Anand Krishna menggagas berdirinya National Integration Movement (NIM) atau Gerakan Integrasi Nasional. Wadah ini didirikan pada tanggal 11 April 2005, enam puluh tahun setelah Indonesia Merdeka, di Tugu Proklamasi, Jakarta.

NIM adalah wadah berkumpul bagi orang-orang Indonesia dari berbagai latar belakang agama, suku, etnis, gender dan pendidikan yang punya kepedulian tinggi terhadap masalah persatuan dan kesatuan bangsa.

Sampai saat ini, NIM telah memiliki cabang di 27 kota di Indonesia dan 4 perwakilan di luar negeri. Di Bali, NIM sudah dideklarasikan di Denpasar, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Bangli. dan Singaraja.

NIM telah menyelenggarakan Simposium, Temu Hati & Diskusi Kebangsaan, Kampanye Publik, dan bekerjasama dengan The Torchbearers secara rutin menyelenggarakan Pesta Rakyat di Lapangan Puputan Badung.

 

PIAGAM KEBANGKITAN INDONESIA 2005
NATIONAL INTEGRATION MOVEMENT


Bahwa proklamasi kemerdekaan fisik oleh para pendiri bangsa di tahun 1945 dan diteruskan melalui pembangunan di segala bidang kehidupan, bukanlah sebuah proses yang sudah selesai. Lebih mendasar dari itu, kemerdekaan jiwa bagi setiap anak bangsa harus terus diwujudkan dan diperbaharui, sebagai pondasi utama dalam membangkitkan Indonesia, yang akan memainkan peranan aktif menuju sebuah masyarakat dunia yang tidak mengenal diskriminasi dalam bentuk apapun. Satu bumi, satu langit, satu umat manusia.

Demi menuju masyarakat baru yang kita cita-citakan itu, kita perlu meneguhkan komitmen untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disintegrasi yang datang dari dalam maupun luar negeri. Dengan berbekal nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tersebar di seluruh penjuru negeri, kita semua, Putra-Putri Ibu Pertiwi, harus bersatu membangkitkan bangsa ini dan membersihkan setiap jengkal tanah air Indonesia dari belukar kesadaran rendah yang tidak mampu melihat kesatuan di balik keragaman budaya Nusantara.

Kepicikan dan kebodohan, sebagai faktor kunci bagi keretakan hubungan kita sebagai anak-anak bangsa, merupakan musuh utama yang harus dilenyapkan dari bumi Indonesia. Sekarang saatnya menjadi sadar dan menengok kembali sejarah dunia yang selama ratusan tahun, bahkan ribuan tahun, tak mampu beranjak maju menciptakan manusia-manusia baru, akibat ribuan perang atas nama agama, kepercayaan dan ideologi, yang telah mensia-siakan begitu banyak nyawa. Kepicikan dan kebodohan yang sama tidak boleh lagi terulang di tanah yang mulia ini.

Laki-laki, perempuan, pemimpin, rakyat jelata, Islam, Kristen – Protestan maupun Katolik - Hindu, Buddha dan semua komunitas etnis dan suku yang meyakini Kemahaesaan dan Kemahahadiran Tuhan, tak terkecuali, adalah Putra-Putri Ibu Pertiwi. Semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk berbhakti, mengabdi dan menciptakan keadaan yang lebih baik di atas dunia, bagi generasi yang akan datang. Di setiap bidang kehidupan dan di mana pun kita berada, kebangkitan jiwa harus tercermin dan mewujud dalam setiap ucapan dan tindakan.

Hanya dengan kesadaran baru, hanya dengan jiwa yang sudah bangkit, kita akan mampu mengatasi berbagai persoalan lainnya yang dihadapi oleh bangsa ini. Ketertinggalan dan ketidakmandirian dalam bidang ekonomi; tata pemerintahan dan perpolitikan yang tidak berorientasi pada pelayanan rakyat, penuh intrik dan korup; pendidikan bermutu rendah; serta keterbelakangan dalam percaturan internasional, hanya mungkin diatasi oleh mereka yang jiwanya telah bangkit. Karena krisis multidimensi pada dasarnya adalah krisis budaya, krisis budi dan hridaya yang meliputi pikiran dan rasa, yang berakar pada kesadaran dan tak mungkin diatasi dengan pendekatan yang melulu teknis dan parsial. Pendekatan holistik atau menyeluruh hanya dapat diwujudkan oleh anak-anak bangsa yang berjiwa utuh, yang menjiwai Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Berbeda-beda tapi satu adanya, tak ada Kebenaran yang dua.

Bangunlah Jiwa, Bangunlah Raga. Demi Ibu Pertiwi, Indonesia Raya!