Berkarya Tanpa Beban Stres & Anand Krishna di Kejari Tabanan

Berkarya Tanpa Beban Stres (BTBS) Di Kabupaten Tabanan

Tanggal 9 Februari 2008

 

Forum Kebangkitan Jiwa (FKJ) kembali menginjakkan kakinya di Kabupaten Tabanan dalam rangka pelatihan Berkarya Tanpa Beban Stres (BTBS). Program ini berlangsung pada Sabtu, tanggal 9 Februari 2008, dari pukul 8.30 sampai 14.00 WITA. Ibu Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Tabanan, I Putu Indriati, SH, yang sebelumnya memang pernah mengikuti program BTBS, kali ini mengajak staffnya yang berjumlah sekitar 30-an orang ditambah dengan staff dari instansi lainnya (Pemda Tabanan) untuk mengikuti program tersebut, sehingga total pesertanya berjumlah 57 orang.

Acara dibuka oleh Bapak Sekda Kabupaten Tabanan, Drs. Judiana MSi. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa BTBS ini bisa berlangsung berkat prakarsa Ibu Kajari. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dana untuk program ini adalah swadaya, bukan dari APBD karena beliau juga ingin staff Pemda Tabanan bisa merasakan manfaat dari program ini seperti yang telah dirasakan oleh Ibu Kajari, sehingga optimalisasi kerja bisa dicapai tanpa adanya dilema kejiwaan seperti stres misalnya.

Selanjutnya adalah sekapur sirih dari Bapak Anand Krishna. Dalam setiap kesempatan, dalam berbagai wacana beliau, selalu saja ada hal-hal baru yang beliau sampaikan. Kali ini beliau mengulas tentang asal-usul kata ‘jaksa’. Beliau mengatakan, dalam bahasa Jawa kuno atau bahasa Kawi yang induknya adalah bahasa Sanskerta, kata ‘jaksa’ adalah distorsi dari kata ‘Adhyaksa’ yang berarti ‘Wakil Utama’. Kata yang sesungguhnya adalah Dharma Adhyaksa. Bukan hanya Wakil Utama, tetapi Wakil Utama bagi Dharma. Seorang jaksa adalah seorang Wakil Utama dari Dharma. Kemudian ketuanya disebut Dharma Adhikari. Dan jika terjadi beda pendapat antara Dharma Adyaksa, maka Dharma Adikari yang menentukan yang mana yang harus diikuti.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa seorang jaksa tidak cukup melihat fakta. Dia juga harus melihat kebenarannya. Kebenaran itu yang kemudian diungkapkan. Seorang jaksa kemudian menjadi penyelidik. Dia juga harus mengumpulkan fakta-fakta yang menunjang kebenaran itu. Kemudian kalau terjadi perselisihan, seorang Dharma Adikari yang akan mengatakan, ini yang benar atau ini yang tidak benar.

Bapak Anand Krishna juga mengulas sedikit tentang meditasi. Dalam keadaan meditatif, oksigen di otak menjadi berkurang sehingga kita akan menjadi tenang. Dalam keadaan tenang, segala informasi yang ada di alam semesta akan masuk ke otak kita. Ini yang kemudian disebut intuisi. Dan ini sangat penting bagi seorang jaksa. Sehingga bila faktanya mengatakan bahwa seseorang itu benar, tetapi intuisi seorang jaksa bisa mengatakan itu tidak benar, atau sebaliknya. Dan intuisi ini akan membantu seorang jaksa untuk mencari bukti-bukti fakta yang bisa mendukung intuisi itu sendiri.

Program pelatihan ini diawali oleh bapak Made Harbayu yang memaparkan situasi dan solusi yang mendasari program BTBS. Selanjutnya beliau memberikan solusi pertama dalam pengendalian stres, yaitu dengan latihan Pernapasan Perut. Latihan berikutnya, Memberdaya Diri dengan Kasih, difasilitasi oleh ibu Fatin Hamamah. Latihan ini dimaksud untuk mengembangkan rasa kasih terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan dan pekerjaan. Latihan kemudian dilanjutkan oleh bapak Hadi Susanto dengan latihan Pembudayaan Emosi Secara Kilat. Kedamaian hati yang menjadi hasil dari latihan ini dimaksud untuk mengembalikan keseimbangan emosi/pengendalian diri, kemandirian dan percaya diri. Sebelum istirahat, masih ada satu latihan, atau lebih tepatnya terapi, yang bertujuan untuk Membebaskan Diri dari Rasa Cemas yang diberikan oleh bapak Nyoman Mahardika.

Selepas istirahat, sebuah drama kecil (role play) dipersembahkan oleh The Torchbearers – kelompok muda-mudi pembawa obor kesadaran dari Anand Krishna Centre. Gelak tawa para peserta menyaksikan ceplas-ceplos non Ari dan Vita, mencairkan kantuk yang sempat timbul sehabis makan siang, sebelum akhirnya menuju pelatihan terakhir yang diberikan oleh bapak Agung Kusuma Wardana: Latihan Peregangan untuk Relaksasi.

Selama pelatihan, para peserta terlihat sangat serius mengikuti latihan-latihan yang diberikan. Terlihat ketika mengikuti latihan-latihan pernapasan, cleansing, latihan pengembangan rasa kasih dan latihan-latihan lainnya, para peserta melakukannya dengan sungguh-sungguh. Para fasilitator tidak bosan-bosannya menjelaskan manfaat menutup mata pada saat melakukan latihan. Karena biasanya ada saja satu atau dua orang peserta yang membuka mata sambil melirik kiri kanan pada peserta lainnya.

Selingan lagu-lagu antara latihan satu dengan latihan lainnya, yang dinyanyikan oleh The Torchbearers sungguh sangat dinamis. Sehingga para peserta pada saat menyanyipun tidak malu-malu menggoyangkan kepala, badan, bahkan pinggul sekalipun. Program BTBS ditutup dengan sharing dan tanya jawab antar peserta dengan fasilitator.

(oka/made mulia)

Berikut berita di harian Radar Bali (Jawa Pos Group) terkait BTBS di Tabanan:

 

Anand Krishna di Kejari Tabanan

Radar Bali, Senin 11 Feb 2008

 

Minggu, 10 Feb 2008
TABANAN-Jajaran Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabanan, kemarin, mendapat pencerahan dari tokoh lintas agama Anand Krishna. Pencerahan ini bertajuk “Bekarya Tanpa Beban Stres (BTBS), atau Seni Memimpin Diri.

Anand Krishna mengatakan, kejaksaan sebagai lembaga pemerintahan yang memiliki peran penting dalam menegakan kebenaran. Program pelatihan ini sejatinya bertujuan untuk membangkitkan intiusi bagi para jaksa dalam menangani sebuah kasus. “Intiusi anda dapat membantu mencari bukti-bukti baru dalam membuka fakta sebuah kasus,” jelas tokoh lintas agama ini.

Dia pun berharap kegiatan serupa diselenggarakan di instansi lainnya agar terjadi kesinergisan. Manfaat menyeluruh dari program BTBS, kata dia, yakni berdaya mengendalikan stress, mengembalikan rasa menyayangi diri, pekerjaan dan lingkungan, mengembalikan keseimbangan emosi, pengendalian diri dan kemandirian serta percaya diri. Selain itu, juga dapat membebaskan diri dari rasa cemas, waswas dan mengembalikan kemampuan untuk menerima perbedaan dan berpikir secara jernih. Serta bekerja secara optimal, efektif , kreatif dan produktif.

Kajari Tabanan I Putu Indriati, SH, mengungkapkan dipilihnya Anand Krishna dalam memberikan pelatihan karena pengalamannya sendiri. Dia telah membuktikan dan pernah mencoba hal serupa dan terbukti mampu meringankan beban pekerjaan sebagai seorang jaksa. ” Memang beban kerja kita semakin hari bertambah berat.Dengan pelatihan seperti ini beban itu dapat diatasi dan saya telah membuktikannya,” jelasnya.(gin)