Mengajar Tanpa Dihajar Stres Bagi Para Guru di Kabupaten Tabanan Bali

Mengajar Tanpa Dihajar Stres Bagi Para Guru di Kabupaten Tabanan Bali

 

Tabanan, 5 Agustus 2007, Forum Kebangkitan Jiwa – Bali bekerjasama dengan Shanti Kara Praja – sebuah forum anak bangsa yang berkecimpung di lembaga pemerintahan khususnya Kabupaten Tabanan – mengadakan Program Mengajar Tanpa Dihajar Stres (MTDS) bagi para guru/pendidik di Tabanan. Satu jam sebelum acara dimulai para peserta sudah berada di areal ruang pertemuan Pemkab Tabanan yang dijadikan tempat pelatihan. Dari wajah mereka tampak begitu antusias untuk mengikuti program. 30 menit menjelang dimulai, 94 orang peserta sudah memenuhi kursi yang disediakan dengan tertib.

 

Suatu pemandangan yang mengharukan sekaligus membanggakan ketika semua peserta mengenakan kaos ‘KAU’ yang dibagikan sebelum mereka memasuki ruangan. Ada rasa haru melihat peserta yang tergolong senior berusia sekitar 45-55 tahun dengan sukacita mengganti baju yang semula dikenakan dengan kaos ‘KAU’. Berbagai komentar terlontar mendukung apa yang tertera pada kaos itu. Para Ibu dan Bapak Guru itu begitu bergairah dan penuh sukacita ketika mereka memandang satu sama lain semua mengenakan kaos yang sama. Seorang Guru dengan penuh perasaan mengucapkan “Aku bangga jadi orang Indonesia “ Kami semua tersenyum merasakan kebahagiaan.

 

Tepat pukul 09.00 WITA, Wija yang bertindak sebagai MC membuka acara. Dalam sambutan Ketua Forum Kebangkitan Jiwan – Bali, Bpk.Agung Kusuma Wardhana (Ode) antara lain mengutip sebagaimana Guruji Anand Krishna sampaikan dalam buku Self Empowerment bahwa negara-negara maju seperti Jepang misalnya sangat menghormati dan menghargai para guru. Dalam perang dunia ke dua ketika bom atom meluluhlantakkan negara itu, yang terpikir oleh Sang Kaisar saat itu adalah berapa banyak guru yang masih dimiliki. Demikian penting peran para guru. Untuk membangkitkan kembali martabat suatu bangsa maka yang mendasar adalah pendidikan bagi warganya. Dan pendidikan hanya dapat dilakukan oleh para guru/pendidik. Di sisi lain guru juga manusia yang mau tidak mau menghadapi seribu satu masalah yang dapat membuatnya tidak berdaya. Program MTDS merupakan jawaban bagi pertanyaan krusial bagaimana dapat membangun akhlak anak didik bila guru sendiri dalam keadaan stres. Lebih daripada itu program MTDS merupakan persembahan kecil atas jasa para guru yang begitu besar.

 

Kepada Shanti Kara Praja, Forum Kabangkitan Jiwa mengucapkan terimakasih atas kerjasama yang baik sehingga program MTDS dapat dilaksanakan bagi guru di Tabanan. Demikian juga kepada Muspida Tabanan yang telah mendukung dan memberikan fasilitas tempat pelaksanaan.

 

Bupati Tabanan diwakili oleh Asisten Pembangunan Bpk Ir. I Gusti Gde Subadiwasa dalam sambutannya menyampaikan bahwa beliau sangat mengapresiasi acara yang diselenggarakan oleh Shanti Kara Praja dengan Forum Kebangkitan Jiwa ini dan diperuntukkan bagi para guru ini sebagai upaya menjadikan para guru di Tabanan dapat berkarya dengan semangat. Hadir pula dalam kesempatan itu yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan dan yang mewakili Dewan Pendidikan Tabanan.

 

Guru adalah “Dia yang melenyapkan kegelapan” itulah yang selalu diucapkan oleh Guruji Anand Krishna, demikian Bpk.Yudhanegara mengantar acara pagi itu dengan mengungkapkan kembali bahwa sungguh mulia peranan guru, sebagai pelenyap kegelapan, yang berarti bahwa segala pikiran, perkataan dan tindakan para pendidik terintegrasi dan patut menjadi panutan bagi anak didik. Karena tantangan hidup yang makin kompleks, saat ini ungkapan Guru sebagai orang yang digugu dan ditiru menjadi tidak valid lagi karena banyak perilaku guru saat ini menyimpang dari jati dirinya. Tantangan hidup yang keras menyebabkan stres tidak terkendali. Untuk itulah management stres diformulasikan oleh Guruji Anand Krishna bagi para Guru sebagai penanam bibit kesadaran bagi anak didiknya.

 

Para guru menyimak dengan seksama penuturan Bpk. Yudhanegara. Sesekali mereka bertepuk tangan dan tertawa bersama ketika Bpk Yudha dengan jenakanya memberikan contoh-contoh awal tanda-tanda stres. Seperti misalnya ketika kita lagi duduk dan salah satu kaki bergerak-gerak bagai seorang penjahit profesional, itu adalah tanda awal stres. Banyak lagi contoh-contoh yang beliau berikan dan diamini oleh para guru yang hadir saat itu.

 

Setelah istirahat, program dilanjutkan dan para fasilitator menyampaikan materinya masing-masing dengan penuh semangat. Dimulai oleh Ibu Fatin Hamamah, Bpk. Hadi Susanto, Bpk Mahardika dan terakhir dibawakan dan ditutup oleh Bpk Made Harbayu. Teman-teman The Torchbearers selama acara berlangsung begitu memukau para guru yang hadir dengan lagu dan goyangannya dan tanpa malu-malu para guru mengikutinya dengan ceria.

 

Tak kurang 20 teman yang ikut berpatisipasi dalam kegiatan yang penuh berkah itu. Rasa bahagia tampak diwajah mereka. Kebahagiaan itu bertambah lengkap tatkala apa yang kami kuatirkan sebelumnya tidak terjadi. Sebagian besar orang Bali sulit diajak mengekpresikan dirinya. Istilah “Koh Ngomong” (enggan berbicara) untuk menggambarkan kebiasaan masyarakat Bali jika menghadapi suatu keadaan yang menekan perasaannya begitu populer di Bali. Keadaan itu membawa konsekuensinya. Kita tentu masih ingat amuk masa yang terjadi ketika Ibu Mega tidak terpilih menjadi Presiden, begitu gampangnya masyarakat Bali terprovokasi untuk merusak sarana publik yang timbul dari akumulasi perasaan-perasaan yang ditekan. Kami sempat kuatir, jangan-jangan para guru nanti tidak ekpresif melakukan latihan-latihan yang kami berikan. Namun kekuatiran kami terhapus pagi itu. Setiap peserta ternyata begitu atentif, responsif dan mengekpresikan dirinya dengan bebas selama program MTDS berlangsung, tidak malu untuk mengakui bahwa diri mereka stres. Pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan latihan muncul dengan spontan, dan membuat suasana jadi meriah dan hidup.

 

Tepat pukul 14.00 WITA program berakhir dan pukul 17.00 WITA acara Pesta Rakyat sudah menanti. Bersama teman-teman yang hadir hari itu di Tabanan, kami meluncur kembali ke Denpasar yang berjarak tempuh 35 km dan kembali dengan semangat menyuarakan kembali persatuan dan kesatuan lewat Pesta Rakyat.

 

Terimakasih Guruji, Tarimakasih ……Guruji memberikan berkah dan kesempatan ini kepada kami…mohon bimbingan dan petunjuk senantiasa dari Guruji.