Pariwisata Kehilangan Arah, 19 November 2007

Pariwisata Kehilangan Arah

Anand Krishna
Radar Bali, Senin 19 November 2007

 

Sungguh ge-err diriku, kupikir akulah orang pertama, atau setidaknya salah satu dari segelintir orang yang mengumandangkan semboyan baru, arahan baru bagi Pariwisata di Bali: Pariwisata Spiritual!

Eh, ternyata salah…..
Istilah itu, ternyata sudah sering digunakan, atau disalahgunakan, tergantung pada persepsi orang masing-masing.

Saya baru selesai membaca buku karangan seorang Aussie, judulnya “Bali Moon” – barangkali terpengaruh oleh lagu “Denpasar Moon” oleh si filipino cantik!

Bali Moon – Bulan Bali, atau barangkali yang dimaksud oleh pengarangnya adalah “Bulan-Bulanan di Bali”. Ya, bukan saja berbulan-bulan, tapi bulan-bulanan. Yang lebih menarik lagi adalah subjudul yang diberikan bagi buku tersebut, yaitu “A Spiritual Odyssye” – Petualangan Spiritual. Sebenarnya yang membuat saya tertarik sehingga membeli buku tersebut adalah sub-judulnya, bukan judul utamanya.

Dari halaman ke halaman – saya berusaha untuk menemukan pengalaman spiritual sang penulis. Dan, kutemukan juga pada halaman-halaman terakhir buku tersebut. Dalam 2-3 halaman terakhir itulah sang penulis menyimpulkan hasil petualangan spiritualnya. Sebuah kesimpulan yang merupakan tamparan keras pada pipi saya, pipi kiri dan pipi kanan. Pipi Kiri yang subjektif dan spesifik: aku sebagai Orang Indonesia yang juga menghabiskan banyak waktu di Bali, bahkan memiliki Kartu Tanda Pengenal Musiman. Dan, Pipi Kanan yang lebih objektif, lebih global – yakni identitasku sebagai Manusia.

Ke-Indonesia-anku, ke-Bali-anku, dan ke-Manusia-anku – tiga-tiganya seolah ditantang. Bahkan, ke-Indonesia-anku dan ke-Bali-anku dihadapkan pada ke-Manusia-anku. Sungguh pedih, perih hatiku – sungguh memilukan bagi jiwaku.

Secara implisit sang penulis menyimpulkan bahwa kejenuhan dan kekecewaanya selama berbulan-bulan berada di Bali itu yang akhirnya membuka mata bathinnya. Ia menyampaikan hal itu dengan sangat sopan. Kendati demikian, kekecewaan adalah kekecewaan. Kejenuhan adalah kejenuhan. Dan, ketika kedua hal itu dikaitkan dengan Bali – maka sungguh memalukan bagi kita semua.

Tapi, jangan marah.
Mari kita melakukan introspeksi diri: Apakah kekecewaan penulis itu beralasan? Saya mendiskusikan isi buku itu dengan beberapa teman. Teman-teman yang memiliki kredibilitas serta integritas tinggi, dan pendapatnya dapat dipertanggungjawabkan.

Odyle Knight, penulis buku “Bali Moon” bercerita tentang pengalamannya dengan para pria di Bali yang bekerja di sektor pariwisata, sudah berkeluarga, sudah punya isteri dan anak di kampung – tapi tega membohongi wisatawan asing dan menjalin hubungan dengan mereka.

Diantara mereka, ada yang bahkan menikahi wisatawan asing itu – kemudian mengajaknya ke kampung. Di kampung, isteri dan anak diperkenalkan sebagai tante dan adik. Ada kalanya, di kampung pun mereka sudah memiliki isteri kedua dan anak pula.

Ah!
Kemudian, ketika cerita itu terbongkar juga – maka si wanita bule menjadi bengong sendiri. Alasannya, wanita yang selama itu diperkenalkan sebagai tante, ternyata isteri pertama dari suaminya. Gadis yang diperkenalkan sebagai adik, ternyata anak suaminya. Dan, perempuan cerewet yang tinggal di sebelah rumah, ternyata isterinya yang kedua!

So, kesimpulan bule yang menjadi korban kebohongan itu: Wanita di Bali menerima poligami sebagai fakta kehidupan. Bahkan, lebih lanjut lagi bahwasanya poligami yang dilakukan oleh seorang suami itu terkait dengan urusan materi. Jadi, bule-bule itu menjadi sapi perah.

Lebih-lebih lagi, perseteruan antara seorang isteri tua dan isteri muda, bahkan perselisihan antara seorang warga Bali yang dipercayai oleh warga asing sebagai partner dalam usahanya – sering tidak diselesaikan secara manusiawi. Maka, masuklah faktor gaib, black magic, leak, perdukunan dan lain sebagainya. Dan, semuanya itu dikaitkan dengan spiritualitas.

Lalu, ada pula kelompok pendatang dari luar pulau yang mengaku sebagai ahli white magic, padahal sama-sama dukun dan penipu pula. Mereka mengaku dapat menolak magic kiriman leak asal Bali. Hebat, si bule mesti mengeluarkan uang lagi. Dijarah disini, dirampok disana….. dan, semua itu atas nama Spiritualitas!

Kadang, seorang pemandu wisata yang sudah bolak-balik menipu wisatawan asing itu berada di tempat ibadah….. bahkan, sedang mencuci dosa-dosanya untuk menjadi seorang rohaniwan!

Penulis Aussie merasa disillusioned dengan segala apa yang dialaminya selama berada di Bali. Ia mengunjungi beberapa tempat lain di Indonesia. Sama saja, sami mawon, same-same.

Kesimpulan terakhir: Segala apa yang terjadi pada dirinya hanyalah cerminan dari pikirannya sendiri. Ia mesti mengalami semuanya itu untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam pendakian rohaninya. Luar biasa! Saya setuju dengan kesimpulan itu.

Namun, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, adalah sangat memilukan, menyakitkan dan memalukan bagi saya – bahwa kekecewaan itu terjadi di Bali. Adalah sangat menggerahkan bathin saya bahwa justru bertolak dari Bali itu yang menjadi titik balik bagi perjalanan spiritual sang penulis.

Beberapa teman lain, teman-teman yang juga bekerja dalam sektor pariwisata, membenarkan pengalaman sang penulis. Bahkan ada yang menyampaikan cerita serupa, pengalaman seorang warga Jepang yang dikenalinya dengan baik.

“Cerita-cerita seperti itu memang benar,” kata temanku, “banyak orang mengalami hal serupa.”

Saya mulai menelusuri lebih jauh….
Gambaran yang saya peroleh sungguh sangat mengerikan. Ada orang-orang tertentu yang berkedok sebagai rohaniwan dan mereka mempekerjakan para calo untuk menggaet orang-orang asing ke tempat mereka. Kemudian, hasil jarahan dibagi sesuai dengan kontribusi masing-masing. Dan, semuanya ini terjadi atas nama “Pariwisata Spiritual”.

Hmmmm, Pariwisata Spiritual….. Ternyata sudah ada oknum-oknum yang menggunakan istilah itu. Banyak pula. Lalu, apa yang mesti kita lakukan? Bagaimana menghentikan upaya pecideraan diri yang tengah dilakukan oleh saudara-saudara kita sendiri, baik oleh warga Bali maupun oleh warga pendatang di Bali?

Pariwisata Spiritual yang sudah salah arah ini mesti dikembalikan ke arah yang benar. Spritiualitas bukanlah perdukunan; Spiritualitas bukanlah klenik; Spiritualitas bukanlah ritual belaka; Spiritualitas bukanlah membaca mantra dan duduk bersila atau bersenggama atas nama Tantra dengan memasang dupa – Spiritualitas adalah Semangat atau Niat di balik segala apa yang kita lakukan.

Spiritualitas adalah kesederhanaan dan kesahajaan – tanpa neko-neko. Spiritualitas mesti memerdekakan jiwa kita dari kejelimetan dan keribetan. Dan, spiritualitas seperti inilah yang sedang dicari oleh warga dunia. Mampukah Bali menawarkan kesejukan spiritual seperti itu kepada para wisatawan yang datang dari jauh-jauh?

Kemampuanmu, Bali, sedang ditantang!
Keberhasilanmu akan menempatkanmu di urutan teratas tujuan Wisata Spiritual warga dunia. Dan, kegagalanmu akan menyirnakan citramu sebagai Sumber Mata Air Kehidupan Spiritual!

Adalah kewajiban kita semua untuk memperbaiki citra ini. Adalah tugas kita bersama untuk memperbaiki citra Bali yang barangkali sudah ternoda ini. Sekali lagi, kita tidak perlu marah, tidak perlu kehilangan cool kita. Mari kita menerima kritikan sepedas apa pun sebagai tantangan dan alasan, pemicu untuk memperbaiki diri…..

 

error: Content is protected !!