Waspadalah Bali! (Radar Bali, Senin 27 Juli 2009)

Waspadalah Bali!

Anand Krishna*
(Radar Bali, Senin 27 Juli 2009)

 
 
Bali pernah menjadi korban pemboman yang dilakukan oleh para penjahat berkedok agama, maka ia dapat memahami duka Jakarta, ketika hotel J.W.Marriott dan Ritz Carlton dibom pada tanggal 17 Juli yang lalu.

Kita semua berdoa, kita semua berharap bahwa kejadian serupa tak terulangi lagi. Tentunya doa dan harapan adalah kekuatan batin yang masih harus  ditunjang oleh kekuatan mental, emosional, intelektual, dan fisik. Berdoa dan berharap saja tidak cukup.

Apa yang terjadi di Jakarta, bisa saja terulang lagi, di Bali, atau di mana pun jua – bila kita terlena dan tidak waspada.

Seperti yang diyakini oleh Jenderal (Purn.) A. M. Hendropriyono dalam mempertahankan disertasi Doktoralnya yang berjudul “Terorisme dalam kajian Filsafat Analitika” (Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 25-07-2009), terorisme dimulai dari pikiran manusia.

Keyakinan mantan ketua Badan Intelijen Nasional ini selaras dan seirama dengan keyakinan banyak peneliti, penulis dan pengamat terorisme. Namun, adalah pengalaman nyata di medan laga yang membuat Jenderal Hendropriyono beda. Ia seolah sedang menyampaikan “berita pandang mata”, yang tidak dapat diabaikan.

Perang melawan para teroris bisa saja dilakukan dengan gaya George Bush atau gaya lain yang sepenuhnya mengandalkan kekuatan militer. Namun, kekuatan militer saja tidak dapat menghentikan teroris-“me”. Para teroris bisa dijatuhi hukuman dan digantung atau ditembak, tetapi teroris-“me” tidak dapat dihentikan dengan cara itu.

Terorisme juga tidak dapat dihentikan dengan sekedar memperbaiki ekonomi dan kondisi sosial lainnya, sebagaimana diyakini banyak pejabat dan pemuka agama. Saya tidak mengatakan bila kedua hal tersebut tidak penting. Jelas penting. Perbaikan ekonomi dan kondisi sosial adalah tugas dan kewajiban negara, institusi-institusi keagamaan dan lain sebagainya.

Namun, perbaikan ekonomi dan kondisi sosial saja tidak dapat meniadakan terorisme. Karena, terorisme tidak tumbuh diatas lahan tersebut. Terorisme tumbuh diatas lahan pikiran: mental, emosional dan intelektual.

Para teroris, sebagaimana dikatakan oleh Jenderal Hendropriyono, bukanlah orang gila. Mereka bukanlah orang-orang berpendidikan rendah. Mereka membunuh, dan bahkan rela mati karena ideologi yang mereka yakini dan cintai.

Dan, ideologi itu tertanam dalam benak mereka, diatas lahan pikiran mereka. Itu pula yang membuat para pelaku aksi kejahatan di Bali masih bisa ketawa-ketiwi ketika dijatuhi hukuman. Mereka masih bisa bersorak dan berteriak histeris di tengah ruang sidang.

Ideologi yang tertanam di dalam benak mereka itu membuat mereka berseberangan dengan segala sesuatu yang mereka anggap bathil, jahat. Dan, bagi mereka “modernitas” adalah kebathilan. “Demokrasi” adalah kejahatan.

Celakanya, ideologi anti modernitas dan anti demokrasi ini tidak hanya tertanam di dalam benak para teroris, tetapi juga di dalam benak sebagian masyarakat yang lain. Masyarakat ini kemudian berkelompok, serta mengadakan hubungan dan kerjasama dengan kelompok-kelompok serupa di dalam maupun luar negeri.

Kelompok non-teroris ini bisa saja tidak terlibat dalam pemboman secara fisik, tetapi tetap menjadi radikal dan ekstremis dalam hal cara pandang dan perilaku sosial mereka.

Jenderal Hendropriyono secara khusus menyebut tiga kelompok asal Timur Tengah, yang terbukti merepotkan wilayah tersebut. Banyak negara-negara Arab malah melarang mereka. Anehnya, di Indonesia mereka malah bertumbuh, dan berkembang subur.

Salah satu kelompok diantaranya, sebagaimana diberitakan oleh Prof. Dr. Greg Barton dari Monash University Australia  (“Jemaah Islamiyah: Radical Islamism in Indonesia”, 2005) malah memperoleh dukungan dari berbagai elemen, termasuk seorang mantan menteri.

Kelompok-kelompok ini memang tidak secara langsung terlibat dalam aksi teror. Namun, adalah rahasia umum bila mereka yang bersahabat atau berafilliasi dengan kelompok-kelompok tersebut juga berlaga di lembaga-lembaga pendidikan dimana beberapa teroris pernah memperoleh “pendidikan”.

Saat ini pun masih ada politisi dan partai-partai politik yang walau enggan menyatakan kasmaran mereka secara terbuka, namun selalu berempati terhadap mereka.

Berarti, ideologi para teroris bukanlah monopoli mereka saja. Masih banyak elemen-elemen lain yang meyakini ideologi yang sama.

Tanggal 21 Juli yang lalu, salah satu kelompok mengadakan pertemuan akbar di Jakarta yang juga menghadirkan beberapa agamawan dari luar negeri. Secara jelas dan tegas, mereka menyampaikan seruan bagi perubahan dasar kita bernegara.

Di negeri lain, barangkali pertemuan seperti itu  dianggap subversi, makar, dan semua yang hadir di tangkap. Di negeri kita tidak. Kita baru belajar ber-demokrasi, sehingga anarki pun kadang disalahartikan sebagai demokrasi.

Kita sedang menghadapi orang-orang, saudara-saudara kita sendiri, yang sedang mengalami krisis identitas. Dalam pertemuan yang saya sebut diatas, bahasa pengantarnya pun Arab, dan bukan lagi bahasa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara ingin mereka ganti dengan syariah agama, yang tentunya sesuai dengan pemahaman mereka. Kepala negara bukan lagi seorang Presiden, tetapi seorang khalifa.

Ideologi berbasis salah satu agama, dan bukan nilai-nilai universal keagamaan sebagaimana telah terakomodir dalam butir-butir Pancasila, jelas dapat memecah belah bangsa kita yang terdiri dari sekian banyak kelompok agama.

Solusi yang ditawarkan oleh Jenderal Hendropriyono, yaitu revitalisasi Pancasila, rasanya merupakan satu-satunya solusi. Tidak ada solusi lain. Terorisme bermula dari pikiran, maka harus berakhir dalam pikiran juga. Mesti dihadapi dengan pikiran juga. Sudah saatnya bangsa ini tidak sekedar meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, tetapi berpikir Pancasila, berperasaan Pancasila, dan berperilaku Pancasila.

Bali mesti waspada terhadap ancaman ideologi-ideologi anti Pancasila. Rakyat Bali mesti bersikap lebih arif dan mendukung partai-partai yang komitmennya terhadap Pancasila jelas dan tegas, dan tidak berurusan dengan elemen-elemen anti-Pancasila di pusat.

Bali mesti waspada terhadap partai-partai penebar pesona yang lain di Bali dan lain pula di pusat. Mereka kurang percaya diri. Bali, jangan berpikir bila apa yang terjadi di pusat tidak akan mempengaruhimu. Waspadalah!


*Aktivis Spiritual, penulis hampir 130 buku (www.anandkrishna.org)

error: Content is protected !!