SIKAP BANGSA, 9 Juli 2007

SIKAP BANGSA

Anand Krishna
Radar Bali, Senin 9 Juli 2007

 

Beberapa waktu yang lalu, hampir semua media menurunkan tiga berita utama pada hari yang sama, banyak diantaranya pada halaman pertama: Tentang Pengunduran Diri Yenny Wahid dari Tim Ahli Presiden, Terbelahnya Palestina, dan Tertangkapnya Pemimpin Tertinggi JI.

Bagaimana kita – sebagai bangsa – menyikapi ketiga berita tersebut, dalam opini saya, dapat menentukan nasib bangsa ini.

Pengunduran Diri Yenny Wahid adalah perkara Etika, perkara Etos Kerja, perkara Kepemimpinan, atau lebih tepatnya Nilai-Nilai Kepemimpinan. Ini adalah Perkara Kemanusiaan sepenuhnya.

Ketika seorang ketua atau pengurus partai yang tidak memperoleh cukup suara untuk menyusun kabinet, menerima undangan untuk bergabung dari partai yang menerima cukup suara – atau dalam hal Yenny Wahid, undangan itu dari individu, dari seorang Eksekutif Utama Negara, Presiden RI – maka undangan itu tidak seyogyanya diterima begitu saja.

Bahkan kerja-sama antara partai-partai berdasarkan nilai rendahan “kau menggaruk aku, maka aku pun akan menggarukmu” – mencerminkan betapa rendahnya kesadaran kita berpolitik.

Ketika partai yang “kalah” memutuskan untuk duduk dalam kabinet dan bekerja sama dengan partai atau individu yang “menang” – apakah mereka memikirkan reaksi para pemilih mereka? Apakah itu tidak merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan mereka?

Partai “A” dan “B” yang dua-duanya tidak memperoleh cukup suara di pusat, bekerjasama di daerah. Padahal, keduanya memiliki visi yang beda tentang Indonesia, Bangsa dan Kebangsaan, bahkan tentang ideologi negara. Misi mereka pun tidak sama. Kerjasama semacam ini lebih tepat disebut perselingkuhan.

Ditengah ketakwarasan yang terjadi dimana-mana, kewarasan sikap Yenny Wahid patut dipuji. Walau agak terlambat – semestinya dari awal ia tidak menerima jabatan sebagai staff ahli – setidaknya sekarang ia telah menentukan pillihannya secara tegas dan jelas.

Ia mementingkan nasib mereka yang memilih PKB daripada berselingkuh dengan kekuasaan. Sudah semestinya Rachmawati dan Syahrir mencontohi sikap Pendekar Perempuan yang satu ini. Lebih baik mereka melayani dan membesarkan partai-partai yang telah mereka dirikan.

Berita Kedua tentang “Terbelahnya Palestina” – mengingatkan saya pada pertemuan dengan Duta Besar Palestina yang terdahulu. Saya berusaha untuk meyakinkan beliau bahwa “Love is the Only Solution”. Apa yang dicapai oleh Gandhi dan Martin Luther King, Jr. – dapat juga dicapai oleh Palestina jika mereka merubah cara-kerja mereka. Beranikan dirimu untuk menerima segala macam hantaman dan pukulan tanpa menghantam balik, tanpa memukul balik – dan seluruh dunia akan mengecam Israel. Amerika dan sekutu tradisional Israel pun akan kewalahan.

Hal ini saya jelaskan kembali kepada Duta Besar Palestina saat ini pada kesempatan pertemuan akbar yang digelar oleh UNESCO di Bali, bulan Januari yang lalu. Beliau menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun Palestina sudah cukup bersabar. Ternyata tidak ada hasilnya.

Well, well, well – apa yang mesti saya katakan? Ketika Nabi Isa ditanya berapa kali kita patut memaafkan seseorang, apakah sekali, dua kali atau tujuh kali? Sang Nabi menjawab 7 kali 7 kali 7…… Maksud beliau, “tanpa batas” – dan saya memahaminya “tanpa syarat” pula.

Jalan Kekerasan yang ditempuh oleh Palestina saat ini ibarat “senjata makan tuan” menghancurkan Palestina sendiri. Sementara itu seorang politisi kita malah memberi public statement: “Apa yang terjadi di Palestina adalah dalam konteks nasionalisme di Indonesia, justru akan bisa mempererat beragam komponen bangsa, untuk menegaskan kembali tentang komitmen kita terhadap UUD 45”

Saatnya beliau merenungkan kembali arti dari setiap kata yang diucapnya: “Apa yang terjadi di Palestina………. bisa mempererat beragam komponen bangsa……..”

“Apa” mana yang beliau maksudkan? Penderitaan Rakyat Palestina kah? Arogansi Hamas dan Fatah kah? Kekerasan yang telah ditanamkan dalam benak anak-anak mereka sejak usia dini kah? Diatas segalanya, sedemikian tak-becus kah bangsa ini, sehingga membutuhkan pengalaman penderitaan atau semangat kekerasan bangsa lain untuk “memperat beragam komponen bangsa”-nya?

Terakhir, Berita Ketiga tentang “Tertangkapnya Pemimpin Tertinggi JI” – saatnya kita tidak hanya memuji Kepolisian Republik Indonesia, tetapi menyemangati mereka, dan meyakinkan Bapak Kapolri bahwa menyatakan kemenangan bukanlah sesuatu yang dapat membuatnya takabur, jika hasil kemenangan itu bukanlah untuk diri sendiri, melainkan untuk bangsa dan negara….. Terima Kasih Kepolisian Republik Indonesia!

Semangat Terorisme bukanlah Semangat Indonesia. Kita berperang, ada sisi-sisi gelap penuh kekerasan di dalam diri kita – tetapi kita tidak pernah meneror orang. Kita tidak pernah membom dan menyembunyikan tangan. Kita tidak pernah menggunakan isu agama untuk meracuni masyarakat. Kita tidak pernah mempolitisir agama demi kepentingan pribadi dan kelompok. Semangat ini adalah semangat asing yang sudah saatnya kita buang jauh-jauh……

Kepada teman-temanku, saudara-saudaraku sebangsa dan setanahair, insan media, aktivis, para psikolog dan lainnya – saat ini kita semua dituntut untuk bersatu-padu. Saat ini bukanlah untuk mencari kesalahan dalam “proses” penangkapan seorang teroris.

Saya merasa kasihan terhadap anak dan keluarga para teroris. Namun, sebelum mencari kesalahan kepolisian, saya juga mesti bertanya kepada sang teroris: “Apakah kau, saudaraku, mengasihani anak dan keluargamu? Apakah kau, sobatku, mengasihani bangsa ini?”

Saya setuju dengan seorang pejabat dari kepolisian yang mengingatkan kita supaya tidak lupa akan substansi dari perkara terorisme ini. Melupakan substansi demi prosedur, khususnya dalam hal ini, dapat mencelakakan kita semua.

Masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Mari kita bergandengan tangan, bersatu-padu, dan bersama-sama menyelesaikannya.

 

error: Content is protected !!